Langsung ke konten utama

Tinjauan Bukti Keterampilan dan Teknologi di Dunia Kerja

Soft skills and new technologies at work : A review of the evidence ( keterampilan lunak dan teknologi baru di tempat kerja: Tinjauan bukti)

I.      Identitas Artikel

Nama penulis              : Ryan Armstrong

Judul artikel                : Soft skills and new technologies at work : A review of the evidence 

                                      (keterampilan lunak dan teknologi baru di tempat kerja: Tinjauan bukti)

Jumlah halaman          : 90

II.   Pendahuluan

Tamayo et al.,2023 menyebutkan bahwa laju perubahan teknologi terus meningkat dengan adanya minat pada karakteristik, pendorong, dan dampak teknologi industry 4.0. Dengan penyebaran AI baru-baru ini, industry 4.0 menjanjikan perubahan drastis di seluruh sektor. Sebagai pengakuan, literature ilmiah dan kebijakan utama telah mengakui bahwa angkatan kerja akan memerlukan pelatihan ulang keterampilan yang signifikan seiring denga perubahan teknologi.

Telah dikemukakan dalam literatur praktisi bahwa soft skill mungkin sama atau bahkan lebih penting dari hard skill dalam menjelaskan manfaat perkembangan teknologi. Pentingnya soft skill di era teknologi baru memang sejalan dengan bukti dari berbagai disiplin ilmu, termasuk dalam kaitannya bekerja dengan teknologi. Teknologi industry juga 4.0 memberikan tuntutan baru pada tenaga kerja, sehingga berpotensi mengubah perilaku manusia pada tingkat mendasar (Nastjuk dkk., 20,).

Dalam artikel ini secara sistematis meninjau kembali bukti-bukti terkait soft skill dalam konteks adopsi teknologi industry 4.0 yang digunakan untuk menjawab pertanyaan berikut:

1.     Penelitian apa yang telah dilakukan mengenai keterampilan dalam konteks perkembangan teknologi terkini terkait dengan industry 4.0 untuk individu, kelompok, organisasi, dan masyarakat luas?

2.     Perilaku lembut manakah yang mendukung masa depan berkelanjutan dalam konteks yang muncul bagi individu, kelompok, organisasi, dan ekosistemnya? Perspektif teoritis manakah yang menjelaskan hubungan ini?

III. Pendekatan Metodelogi

Metode penelitian yang ditulis penulis dalam artikel ini yaitu menggunakan pendekatan sistematis untuk menganalisis kecanggihan soft skill dalam konteks teknologi yang sedang berkembang.

IV. Analisis Isi

1.     Analisis klaster

Tingkat analisis yang berkaitan dengan perilaku individu dan dampaknya pada individu itu sendiri, pasangan individu yang saling bergantung, kumpulan individu yang saling berinteraksi (kelompok), kelompok individu yang saling bergantung. Dalam bekerja dengan kelompok teknologi mencakup minat pada hasil tingkat individu seperti kinerja, kesejahteraan, atau keterlibatan dalam konsep terkait. Klaster ini hampir keseluruhannya berfokus pada hasil di tingkat individu. 

V.    Sintesis Bukti

Artikel ini berisi 460 pertimbangan soft skill dan 51 hasil terkait pengembangan organisasi yang dimaksudkan untuk mendukungnya, soft skill dihitung berdasarkan kategori atau subkategori serta persentase artikel dalam klaster yang membahas suatu keterampilan tertentu.

1.     Tuntutan soft skill

Artikel ini menggabungkan analisis teks yang mempertimbangkan kinerja terkait dengan soft skil. (Persaud, 2021), menggunakan analisis teks deksripsi pekerjaan, wawancara, dan analisis tawaran, memberikan bukti kuat tentang pentingnya serangkaian soft skill yang diperlukan dalam analisis data besar, bukti mendukung bahwa teknologi baru memang membuahkan hasil.

2.     Dengan teknologi

Teori transaksional stress (TST) adalah kerangka teoritis yang paling umum digunakan untuk menjelaskan hasil (Lazarus & Folkman, 1984), yang memandang stres sebagai dinamis yang dihasilkan dari penilaian individu terhadap stressor sebagai ancaman. Untuk meningkatkan kemampuan mereka dapat diatasi melalui sumber daya dan strategi yang tersedia.

VI.  Tantangan bagi penelitian industri

Ketika mengatasi kompleksitas yang melekat pada soft skill, kedua istilah tersebut efektif. Perilaku yang tersirat dalam kata “keterampilan” pada dasarnya kompleks dan memerlukan pertimbangan yang digambarkan oleh Mitchell (2008) sebagai sesuatu yang bersifat komposisional, dinamis, dan berevolusi secara evolusioner.

VIImplikasi bagi peneliti

Dalam artikel ini menunjukan bahwa teknologi industri 4.0 menggeser soft skill dan para peneliti harus mengatasi kompleksitas yang ada. Mengingat besarnya implikasi finansial dari defisit soft skill dalam hal biaya, peneliti terkejut karena hampir tidak ada penelitian yang membahas perolehan soft skill dalam konteks teknologi baru.

VIImplikasi terhadap praktek

Dalam artikel ini memberikan dukungan luas terhadap manfaat soft skill untuk mendukung kesejahteraan dan kinerja organisasi yang dianggap sebagai dukungan terhadap efektivitas bagi yang terlibat dan penting bagi para praktisi terutama pembuat kebijakan untuk menyadari potensi ketegangan. Memang benar, mengingat kasus pelepasan tekanan diperlukan strategi penanggulangan yang reaktif yakni “kecenderungan untuk berfokus pada aspek-aspek yang dianggap menjengkelkan (Pirkkalainen dkk., 2019, hal. 1187).

Kesimpulan

      Industri 4.0 menciptakan tuntutan baru di tempat kerja yang menjanjikan perubahan perilaku manusia pada tingkat yang sangat mendasar. Hanya dalam beberapa dekade, teknologi telah memfasilitasi perubahan drastis dalam sifat keterampilan yang juga sering berdampak signifikan pada cara kita berkomunikasi, mengatur diri sendiri, dan memimpin. Namun, tidak diragukan lagi bahwa teknologi baru memerlukan hard skill. Tinjauan dalam artikel ini mewakili langkah signifikan dalam menjawab pertanyaan ini dengan menawarkan hubungan komprehensif antara soft skill dan hasil dalam konteks baru.

    Di era industri 4.0 ini soft skill dan kemajuan teknologi sangat penting dan diperlukan dalam dunia kerja, karena selain individu bisa berpikir kritis juga perlu disatupadukan dengan teknologi karena memungkinkan dapat meningkatkan efisiensi, produktivitas, komunikasi, dan kolaborasi (oleh Nurul Hafadah).

            

Komentar